Kamis, 08 Juni 2017

TAMAN KOTA SPATHODEA

Diposting oleh DhillaTM di 12.26 0 komentar
Taman Kota merupakan taman yang berada di lingkungan perkotaan dan diharapkan dapat mengatisipasi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan kota serta dapat dinikmati oleh seluruh warga kota.
Salah satu taman kota tersebut, yaitu taman spathodea. Taman Kota Spatodhea terletak di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Taman ini dibangun sejak tahun 2011 dan selesai pada pertengahan 2012. Taman Spathodea dibuka untuk umum mulai pukul 05.00 hingga pukul 18.00 WIB.
Berikut ini video berkaitan dengan taman kota spathodea sebagai sarana rekreasi warga kebagusan.
Happy Watching!


Baca Terusannya »»  

Minggu, 28 Mei 2017

JAJANAN DI TAMAN SPATHODEA

Diposting oleh DhillaTM di 02.18 0 komentar

Nama Taman             : Taman Spathodea
Lokasi                : Jl. Kebagusan Raya, RT.13/RW5, Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12620.

            Taman Spathodea yang berada di kawasan Jagakarsa ini merupakan salah satu taman yang harus dikunjungi. Taman ini memiliki banyak fasilitas yang dapat memanjakan para pengunjung dari mulai tempat bermain, tempat berolahraga dan sarana untuk berkumpul bersama keluarga atau teman-teman sambil menikmati keindahan taman tersebut. Saat mengunjungi taman ini pengunjung dapat juga menikmati jajanan yang ada di bagian depan dan belakang Taman Spathodea ini. Jajanan-jajanan tersebut memiliki harga terjangkau dan dapat dengan mudah ditemui di dekat Taman Spathodea ini.

            Jajanan yang ada di Taman Spathodea ini merupakan jajanan yang ada pada umumnya dinikmati oleh setiap masyarakat. Mulai dari es potong, cilor, bakwan malang, siomay, berbagai jenis minuman, dan masih banyak lagi. Beberapa jajanan tersebut dapat menemani para pengunjung yang datang sambil menikmati keindahan dan fasilitas yang ada di Taman Spathodea tersebut. Pengunjung dapat dengan mudah menemukan berbagai jajanan ringan disaat mengunjungi taman tersebut. Kelebihan dari lokasi jajanan-jajanan di Taman Spathodea ini adalah para penjual jajanan tidak berada di dalam taman, melainkan berada di luar pagar dari Taman Spathodea ini. Dengan posisi jajanan yang berada di bagian luar ini membuat Taman Spathodea tidak menjadi kotor dengan sampah-sampah para penjual jajanan. Karena para penjual tidak menjajakan jualan mereka didalam taman, melainkan berada di bagian depan dan belakang Taman Spathodea ini. Dengan begini kebersihan Taman Spathodeapun selalu terjaga, ditambah lagi dengan adanya beberapa tempat sampah yang banyak berada pada taman ini. 

Kenikmatan jajanan-jajanan yang ada semakin terasa ketika pengunjung menghabiskan waktu untuk menikmati kenyamanan dan fasilitas yang diberikan Taman Spathodea ini. Dengan adanya Taman Spathodea yang nyaman dan memberikan berbagai fasilitas yang ada, membuat para pengunjung dan penjual jajanan betah berada di taman tersebut. Pengunjung dan penjual jajanan mendapatkan keuntungan antara satu sama lainnya. Pengunjung dapat menikmati keindahan dan fasilitas taman sambil menikmati jajanan yang ada, dan juga para penjual jajananpun juga mendapatkan keuntungan dari penjualan jajanan mereka sehingga dapat menambah sumber nafkah dari para penjual jajanan yang ada. Walaupun banyak jajanan yang terdapat di dekat Taman Spathodea ini tidak membuat kebersihan taman tersebut kotor, karena posisi para penjual yang tidak berada di dalam taman dan fasilitas tempat sampah yang disediakan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Taman Spathodea tersebut.


Baca Terusannya »»  

Rabu, 17 Mei 2017

FASILITAS YANG ADA DI TAMAN SPATHODEA

Diposting oleh DhillaTM di 09.38 0 komentar
Taman Spathodea, Jl. Kebagusan Raya, RT.13/RW.5, Jagakarsa, Kota JakartA Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12620



Taman Spathodea merupakan salah satu taman kota yang ada di daerah Jakarta. Awalnya Taman Spathodea ini adalah tempat lahan pembuangan sampah dan lahan kolam empang warga sekitar. Kemudian Dinas Pertamanan dan Pemakaman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubahnya menjadi taman kota yang diharapkan dapat memberikan manfaat untuk warga Jakarta khususnya warga daerah sekitar Jagakarsa. Tujuan dibangunnya taman ini adalah untuk tempat resapan air dan sebagai tempat bersosialisasi warga sekitar. Taman Spathodea dibuka untuk umum mulai pukul 05.00 hingga pukul 18.00 WIB, sebelumnya taman ini dibuka hingga pukul 21.00 WIB tetapi akhirnya diberlakukan jam tutup untuk menghindari tindakan kriminal dan tindak asusila yang terjadi.
Taman Spathodea menyediakan banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan pengunjung untuk menghabiskan waktunya seperti berekreasi bersama keluarga dan berolahrga seperti lari pagi atau hanya sekedar berjalan santai menikmati pemandangan sekitar taman. Fasilitas yang tersedia antara lain kolam, tempat berolahraga, area bermain anak, tempat duduk, tempat sampah, lampu taman, kamar mandi, pos jaga, dan parkiran. 

Kolam yang terdapat di taman ini berupa kolam ikan yang dimana para pengunjung dapat memberi makan ikan-ikan tetapi dilarang untuk menangkap ataupun memancing ikan. Ikan-ikan yang ada di kolam seperti ikan sepat, ikan mujair, ikan gurame, dan ikan mas. Tempat berolahraga yang tersedia di taman Spathodea ini berupa jogging track dan alat-alat untuk fitness. Area bermain anak yang tersedia di taman ini adalah ayunan, perosotan, dan lain-lain. Tempat duduk yang disediakan disana terbuat dari beton dan besi yang memberikan kesan nyaman bagi yang ingin duduk-duduk santai. Tempat sampah yang tersedia sangat unik karena bentuknya dibuat menyerupai buah-buahan seperti buah apel dan strawberry, yang bertujuan untuk menarik perhatian pengunjung khususnya anak-anak agar mereka mau membuang sampah pada tempatnya sehingga kebersihan di taman ini tetap terjada. Lampu taman yang berguna untuk menerangi area taman dan sebagai hiasan agar terlihat menarik. Ada juga kamar mandi yang disediakan untuk pada pengunjung. Parkiran pun disediakan untuk para pengunjung yang membawa kendaraan, disertai juga pos jaga diarea parkiran.

Fasilitas yang tersedia di Taman Spathodea cukup terawat tetapi ada fasilitas yang sudah rusak seperti lampu taman dan tempat sampah yang sudah pecah. Harapan dari tersedianya fasilitas di taman ini adalah agar para pengunjung mendapatkan manfaat setelah berkunjung dan diharapkan juga para pengunjung agar tetap menjaga kebersihan dan menjaga fasilitas-fasilitas yang ada dengan tidak merusaknya.



Baca Terusannya »»  

Minggu, 07 Mei 2017

TAMAN SPATHODEA

Diposting oleh DhillaTM di 09.41 0 komentar



Nama Taman          :   Taman Spathodea
Lokasi                     : Jl. Kebagusan Raya, RT.13/RW.5, Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12620

Taman Kota adalah taman yang berada di lingkungan perkotaan dalam skala luas dan dapat mengatisipasi dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan kota dan dapat dinikmati oleh seluruh warga kota. Taman kota sebagai lingkungan luas kawasan hijau ini sangat penting bagi lingkungan, tidak hanya sebagai kawasan lindung tetapi juga seabagai hutan kota, sebagai tempat rekreasi keluarga, kawasan olahraga dan ruang terbuka hijau. Taman kota memiliki banyak fungsi seperti fungsi ekologis yaitu taman kota sebagai paru-paru dunia yang mengkasilkan oksigen, fungsi social yaitu taman kota sebagai sarana olahraga, sebagai tempat komunikasi soasial dan menambah nilai estetika di sebuah lingkungan. Taman kota menjadi point penting dalam pembangunan infrastruktur lingkungan. Karena taman kota memiliki banyak peran yang sangat penting bagi kualitas lingkungan perkotaan. Taman kota juga dapat membangun toleransi antar sesame manusia, tudak hanya itu juga sesame makhluk hidup lainya.


Taman Kota Spathodea merupakan salah satu taman kota yang ada di Jakarta. Taman Kota Spatodhea terletak di Jalan Kebagusan, Jakarta Selatan. Nama Spathodea diambil dari nama pohon Spathodea yang banyak di tanam di taman ini. Spathodea Campanulata atau disebut Kembang Kerucutan termasuk kedalam family Bignoniaceae tampilannya berupa pohon dengan daun rimbun dan bunganya yang berukuran tidak terlalu besar. Tamanam tersebut asli afrika yang cocok ditaman di daerah tropis. Taman Kota Spathodea dibangun sejak tahun 2011 dan selesai pada pertengahan 2012. Awalnya taman ini dibangun sebagai daerah resapan air dan menjaga keseimbangan kontur tanah du daerah tersebut yang memang tidak rata. Taman ini sangat mudah untuk dijangkau karena terletak di tengah perkotaan serta perkampungan dan sangat strategis terletak di pinggir jalan raya. Taman Kota Spathodhea menjadi tempat favorit daerah setempat untuk mengisi hari libur bersama keluarga atau hanya duduk-duduk santai saja. Di taman tersebut banyak tanaman dan pepohonan sehingga taman terlihat asri dan sangat nyaman sehingga para pengunjung betah untuk berlama-lama disana. Keadaan taman Spathodea sangat terjaga keadaanya dan segala fasilitas yang tersedia disana dengan keadaan baik. Taman Spatodhea ini banyak memberikan dampak positif bagi daerah sekitar diantara nya adalah sebagai tempat rekreasi,  sebagai media pembelajaran dan bermain bagi anak-anak serta menjadi daya tarik bagi orang-orang yang lewat di depannya.


Baca Terusannya »»  

Rabu, 26 April 2017

PENGARUH PERKEMBANGAN PENDUDUK TERHADAP KESEIMBANGAN LINGKUNGAN

Diposting oleh DhillaTM di 13.51 0 komentar
LATAR BELAKANG
        Perkembangan penduduk di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahunnya. Meningkatnya perkembangan penduduk ini menyebabkan pemenuhan akan kebutuhan penduduk juga semakin meningkat. Ini mempengaruhi keseimbangan lingkungan karena aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sering kali berdampak buruk pada lingkungan. Pemenuhan kebutuhan ini tentunya memanfaatkan sumber daya alam yang selalu digunakan dari waktu ke waktunya. Kebutuhan manusia yang tidak terbatas membuat sumber daya alam yang digunakan semakin banyak dan sumber daya alam yang terbatas digunakan secara terus-menerus tanpa adanya perbaikan kembali membuat sumber daya alam akan habis. Hal ini lah yang menjadi dasar pengaruh perkembangan penduduk terhadap keseimbangan lingkungan.
             Lingkungan yang menjadi tempat bagi manusia sekarang mengalami berbagai macam hal yang merugikan keseimbangan alam. Kerusakan lingkungan yang disebabkan kegiatan manusia jauh lebih besar dibandingkan dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh proses alam. Dampak pertambahan penduduk terhadap keseimbangan lingkungan dan kelestarian alam lainnya adalah berdampak buruk bagi ketersediaan air, ketersediaan udara bersih, minimnya kesempatan mengenyam pendidikan, terbatasnya ketersediaan perumahan dan semakin sedikitnya lahan kosong. Banyak dampak buruk bagi keseimbangan lingkungan yang terjadi atas meningkatnya pertumbuhan atau perkembangan penduduk. Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat harus dilakukan  perbaikan dan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk. Sehingga membuat keseimbangan lingkungan yang sebelumnya buruk dapat dikurangi dengan berbagai macam bendtuk pengendalian terhadap jumlag penduduk yang dilakukan.

PEMBAHASAN
         Manusia sangat membutuhkan alam dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia mengalami perubahan yang terjadi di suatu wilayah yaitu meningkatnya perkembangan manusia atau yang biasa disebut dengan pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dapat mempengaruhi keseimbangan lingkungan juga. Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk disuatu wilayah tertentu dibandingkan waktu sebelumnya. Menurut UUD 1945 penduduk adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Menurut Thomas Robert Malthus dalam Essay on the Principle of Population (1798), dikatakan bahwa “Penduduk bertambah menurut deret ukur dan bahan makanan bertambah menurut deret hitung ”. Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup merupakan pihak yang selalu memanfaatkan lingkungan hidup yaitu dalam pemenuhan kebutuhan pangan, papan, sandang dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk yang paling unggul di dalam ekosistemnya memiliki kekuatan dalam mengolah dan mengkonsumsi berbagai sumber-sumber daya alam bagi kebutuhan hidupnya. Perlembangan penduduk sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan dan keseimbangan lingkungan.
               Banyak dampak yang timbul dari pertumbuhan penduduk khususnya di Indonesia. Dampak-dampak tersebut muncul dari segi kebutuhan makan, transportasi, lahan, pendidikan, pencemaran lingkungan dan sebagainya. Meningkatnya kebutuhan hidup manusia karena pertambahan jumlah penduduk dunia serta meningkatnya kesejahteraan hidup yang disertai meningkatnya kebutuhan hidup manusia di satu pihak, dan kemapuan teknologi modern yang mempermudah manusia mengolah sumberdaya alam yang terbatas, seringkali kearifan lingkungan yang mereka kembangkan sebagai kendali terlupakan. Pengolahan sumberdaya alam dan pengelolaan lingkungan yang sehat diabaikan demi terpenuhinya kebutuhan hidup manusia yang cenderung terus meningkat dalam jumlah, ragam dan mutunya. Pesatnya kemajuan teknologi modern tidak secara berimbang diikuti dengan perkembangan pranata sosial sebagai kendali sehingga dapat merusak keseimbangan lingkungan hidup.
            Beberapa dampak yang mempengaruhi keseimbangan lingkungan akibat perkembangan penduduk seperti berkurangnya ketersediaan bahan pangan, berkurangnya ketersediaan udara bersih, berkurangnya ketersediaan lahan, pencemaran lingkungan dan pendidikan. Untuk dapat bertahan hidup manusia membutuhkan makanan, dengan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan untuk makanan yang didapatkan dari alam juga semakin meningkat. Maka dengan berkembangnya penduduk yang semakin meningkat akan menimbulkan ketidakseimbangan yang menyebabkan ketersediaan terhadap pangan semakin sedikit dan dapat menyebabkan kekurangan gizi bagai penduduk yang kekurangan makan. Berkurangnya ketersediaan lahan yang dimaksudkan disini adalah akibat pertubuhan penduduk yang semakin tidak terkendali menimbulkan kekurangan lahan karena seluruh penduduk yang semakin berkembang membutuhkan lahan untuk rumah tempat tinggal, berbagai macam jenis bangunan seperti sekolah, rumah sakit, dan bangunan lainnya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dari manusia. Jumlah penduduk yang bertambah memerlukan lahan luas sebagai sarana tempat tinggal, melakukan kegiatan industri, pertanian, dan lain-lain. Semakin besar perbandingan populasi manusia dengan jumlah lahan menyebabkan lahan makin sulit untuk didapatkan. Udara bersih adalah udara yang banyak mengandung oksigen. Udara bersih merupakan kebutuhan mutlak manusia. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk, maka kebutuhan oksigen semakin banyak. Wilayah dengan penduduk yang banyak menyebabkan pemcemaran udara, baik akibat pabrik-pabrik dan kendaraan yang digunakan oleh manusia menyebabkan populasi udara dan ketersediaan akan udara bersih semakin berkurang.  Untuk memenuhi kebutuhan sandang didirikan pabrik tekstil dan untuk mempercepat transportasi diciptakan berbagai jenis kendaraan yang dapat menimbulkan polusi udara dari asap yang dikeluarkan. Bertambahnya jumlah penduduk membuat aktivitas-aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya yang tidak dilakukan dengan benar seperti contoh tersebut semakin banyak dan semakin lama dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Pertambahan penduduk juga menyebabkan makin meningkatnya limbah rumah tangga, seperti sampah dan lain-lain. Hal ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Pendidikan merupakan usaha untuk mencerdaskan manusia sehingga mampu meningkatkan produktivitasnya. Rendahnya pendidikan penduduk pada suatu wilayah akan mendorong rusaknya lingkungan hidup.
            Perkembangan penduduk yang menimbulkan beberapa dampak buruk bagi keseimbangan lingkungan perlu ditangani agar dapat mengurangi dampak buruk yang terjadi. Penyeimbangan antara kebuthan manusia dengan lingkungan alam sekitar dapat mengurangi pengaruh buruk yang timbul. Selain penyeimbangan antara pertumbuhan penduduk dengan lingkungan hidup kita juga perlu memperhatikan cara mengelola lingkungan dan melestarikan alam dengan banyaknya populasi manusia. Berbagai permasalahan yang timbul akibat pertumbuhan penduduk setiap tahunnya, tentu dapat ditangani dengan berbagai usaha seperti mengubah sistem pertanian, menemukan jenis-jenis tanaman yang tahan lama, mengurangi penggunaan pestisida, melakukan penanaman pohon kembali, melakukan reboisasi, memperluas kawasan hutan lindung, menciptakan teknologi yang hemat bahan bakar, melakukan daur ulang,  dan menyaring terlebih dahulu limbah pabrik yang akan dibuang. Beberapa contoh tersebut dilakukan untuk mencegah ketidakseimbangan lingkungan dari segi alam. Dari segi manusia pengendalian pertumbuhan penduduk dapat dilakukan dengan pengadaan kebijakan Keluarga Berencana (KB) dan generasi berencana. Indonesia telah memiliki badan yang bertugas dalam pengendalian penduduk, berdasarkan UU No 52 Tahun 2009, badan ini berubah dari badan koordinasi menjadi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program KB merupakan salah satu langkah BKKBN dalam mengendalikan penduduk. Program KB ini diatur dalam beberapa peraturan seperti contohnya PP No 38 tahun 2007 dan UU No 52 tahun 2009. Pengendalian penduduk menjadi Pekerjaan Rumah bagi negara Indonesia untuk mengurangi tingkat kerusakan lingkungan. Sayangnya, program KB yang dicanangkan oleh BKKBN melemah ketika awal otonomi daerah digulirkan karena urusan KB dan Kependudukan sudah menjadi urusan pemerintah daerah.  BKKBN daerah yang dulu terkoordinasi dengan BKKBN Pusat saat ini sudah tidak lagi, BKKBN Pusat hanya terkoordinasi dengan BKKBN Provinsi.
Generasi muda merupakan generasi produktif yang terbesar jumlahnya dalam piramida penduduk dan merupakan sasaran program, seperti penundaan usia perkawinan sehingga dapat menekan laju pertumbuhan penduduk. Dengan menunda usia kawin, diharapkan angka kelahiran akan menurun. Mestinya arah pembangunan Program KB lebih mendepankan pada promosi baik melalui media cetak, elektronik maupun media luar ruang dengan sasaran kepada generasi muda. Promosi dapat dilakukan diberbagai tempat yang bisa di jangkau atau dilihat oleh anak-anak muda tersebut. Beberapa hal yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau pengendalian dari pertumbuhan jumlah penduduk yang dapat mempengaruhi keseimbangan lingkungan.

KESIMPULAN
            Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat mengakibatkan kebutuhan manusia juga semakin meningkat. Peningkatan kebutuhan manusia tersebut mempengaruhi keseimbangan lingkungan, karena kebutuhan manusia dipenuhi melalui sumber daya alam yang ada. Kebutuhan manusia yang tidak terbatas membuat sumber daya yang terbatas lama kelamaan akan habis apabila tidak dapat dikendalikan dengan baik akibat pertumbuhan jumlah penduduk. Perkembangan atau pertumbuhan penduduk berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan seperti berkurangnya ketersediaan pangan, berkurangnya ketersediaan udara bersih, berkurangnya ketersediaan lahan, pencemaran lingkungan dan pendidikan. Dampak-dampak tersebut terjadi akibat aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Walaupun banyak dampak buruk yang dapat terjadi, dapat dilakukan penyeimbangan antara kebutuhan manusia denga memeperhatikan cara pengelolaan sumber daya alam yang baik dan benar. Pertumbuhan penduduk yang semakin berkembang juga dapat ditekan dengan pengendalian yang dilakukan dengan pengadaan kebijakan keluarga berencana dan generasi berencana. Sehingga pertumbuhaan penduduk dapat dikendalikan dengan baik dan keseimbangan lingkunganpun terjaga dengan baik.

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA
https://qadriqaa.wordpress.com/2014/06/12/pengaruh-pertumbuhan-penduduk-terhadap-keseimbangan-lingkungan-dan-kelestarian-alam/
Baca Terusannya »»  

Rabu, 11 Januari 2017

REVIEW JURNAL (Work Environment and Organizational Learning as Key Drivers of Employee Productivity: Evidence from Higher Education Sector)

Diposting oleh DhillaTM di 06.41 0 komentar

Judul
Work Environment and Organizational Learning as Key Drivers of Employee Productivity: Evidence from Higher Education Sector
Jurnal
International Journal of Human Resource Studies
Volume
2016, Vol. 6, No. 2
Tahun
2016
Penulis
Jalal Hanaysha
Reviewer
Lailatul Fadhilla Rahmi (35414965)
Tanggal
7 Januari 2017

ABSTRAK:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas kerja karyawan di sektor pendidikan dengan menguji efek dari lingkungan kerja dan pembelajaran organisasi. Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data menggunakan instrumen survei dari 242 karyawan di perguruan tingggi negeri utara Malaysia. Data yang dikumpulkan lalu diolah dan di analisis menggunakan softaware SPSS dan AMOS. Penelitian ini bermanfaat  bagi para pembuat keputusan untuk merumuskan strategi yang optimal dalam hal lingkungan kerja dan pembelajaran organisasi yang bertujuan untuk meningkatkan produtivitas karyawan untuk mencapai keunggulan kompetitif dan hasil organisasi yang menguntungkan.

PENDAHULUAN:
            Tingkat produktivitas yang lebih tinggi dapat membantu organisasi meningkatkan keuntungan dan upah karyawan, hal ini juga menyebabkan peningkatan kinerja organisasi dan keuntungan ekonomi yang lebih besar. Kinerja karyawan dalam memanfaatkan dan menghasilkan barang dan jasa berasal dari lingkungan kerja organisasi itu sendiri. Kondisi lingkungan kerja yang kondusif membantu kinerja karyawan untuk dapat mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik dan optimal. Untuk meningkatkan produktivitas kinerja karyawan maka organisasi bertanggung jawab untuk memastikan lingkungan kerja yang tepat dan kondusif bagi para karyawan. Pembelajaran organisasi merupakan faktor penting yang dapat membantu organisasi meningkatkan produktivitas karyawan. Pembelajaran organisasi menunjukkan bahwa karyawan belajar di dalam organisasi. Pembelajaran organisasi mengacu pada proses menciptakan, memelihara, dan mentransfer pengetahuan dalam organisasi. Keuntungan dari pembelajaran organisasi adalah bahwa hal itu memungkinkan suatu organisasi untuk tetap kompetitif meskipun perubahan lingkungan.

TUJUAN PENELITIAN:
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efek dari lingkungan kerja dan pembelajaran organisasi pada produktivitas di sektor pendidikan tinggi Malaysia. Hasil dari penelitian ini akan memberikan panduan yang berguna dan saran bagi para pembuat kebijakan untuk menangani isu-isu produktivitas di tempat kerja.

METODOLOGI:
            Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Kuesioner dibuat untuk menguji dampak dari lingkungan kerja dan pembelajaran organisasi terhadap produktivitas kerja karyawan. Populasi penelitian ini terdiri dari karyawan universitas negeri di Malaysia utara. Kuesioner yang dibuat didistribusikan pada responden menggunakan survei online selama beberapa hari. Penelitian ini mendistribusikan 870 kuesioner kepada responden yang ditargetkan (akademisi dan staf administrasi) dan hanya 242 yang bersedia untuk berpartisipasi dalam survei. Instrumen yang dikembangkan untuk penelitian ini terdiri dari tiga bagian. Bagian A termasuk satu set pertanyaan tentang jenis kelamin, usia, kualifikasi pendidikan, dan panjang pengalaman kerja. Bagian B termasuk pertanyaan untuk mengukur lingkungan kerja dan produktivitas karyawan. Skala lingkungan kerja, karena item dilaporkan pada keandalan diterima dengan nilai alpha Cronbach lebih dari 0,70. Bagian C termasuk tujuh pertanyaan untuk mengukur pembelajaran organisasi. Semua item diukur pada skala Likert lima poin mulai dari 1 "sangat tidak setuju" sampai 5 "sangat setuju". Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan SPSS 19 dan pemodelan persamaan struktural melalui AMOS 18. Pada bagian berikut, analisis hasil disajikan.

ANALISIS HASIL:
            Profil responden yang mengisi kuesioner adalah 65 (26,9%) dari responden adalah laki-laki, sementara 177 (73,1%) adalah perempuan. Sebagian besar responden (50%) termasuk dalam kelompok usia 26 sampai 35 tahun, diikuti oleh 98 (40,5%) dalam kategori usia 36 sampai 45 tahun. Mereka yang usia berkisar antara 18 sampai 25 tahun menyumbang 2,9% dari total respon, dan hanya 16 (6,6%) yang 46 tahun ke atas. Pada profil pendidikan, 36 (14,9%) dari responden memperoleh gelar diploma, 79 (32,6%) memiliki kualifikasi sarjana, 125 (51,7%) memiliki gelar pascasarjana, dan hanya 2 (0,8%) memiliki sertifikat profesional lainnya. Mayoritas responden (69%) memiliki lebih dari 5 tahun pengalaman kerja di lembaga mereka saat ini. Digunakan alpha Cronbach untuk menguji keandalan konstruksi, dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai alpha Cronbach dari semua konstruksi yang memuaskan. Lingkungan kerja dengan nilai alpha Cronbach 0,83 dan pembelajaran organisasi juga mencapai nilai alpha Cronbach 0,88. Akhirnya, produktivitas karyawan dilaporkan pada keandalan diterima dengan nilai alpha Cronbach 0,75. Berdasarkan temuan ini, dapat dikatakan bahwa keandalan semua konstruksi memuaskan dan melebihi nilai cut-off terendah 0.70. Analisis faktor konfirmatori dilakukan untuk mengkonfirmasi keberadaan validitas konvergen. Prosedur untuk melakukan analisis faktor dieksekusi menggunakan AMOS 18 melalui model pengukuran yang mencakup semua item. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor loadings dari semua item berkisar 0,48-0,82. Oleh karena itu, hasil analisis faktor yang dapat diterima untuk semua konstruksi. Langkah berikutnya adalah untuk menguji model struktural untuk memastikan kebaikan model fit menurut sejumlah nilai fit. Ditunjukkan bahwa model struktural dicapai cocok untuk data, dimana nilai Chi-square sama dengan 145,954. kriteria fit lainnya (df = 87, GFI = 0,926, AGFI = 0,897, TLI = 0,950, CFI = 959, dan RMSEA = 0,053) juga digunakan untuk memberikan dukungan lebih lanjut untuk Chi-square dan memenuhi asumsi kebaikan model fit . Dari temuan ini, dapat disimpulkan bahwa model dicapai diterima fit untuk data. Tabel regresi dihasilkan dari output dari model struktural. Ditunjukkan bahwa lingkungan kerja memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan (β = 0,213, t-value = 2,339, p <0,05), maka, H1 diterima. Selain itu, efek pembelajaran organisasi terhadap produktivitas kerja karyawan adalah positif dan signifikan secara statistik (β = 0,014, t-value = 4,125, p <0,05), akibatnya, H2 didukung. Secara keseluruhan, lingkungan kerja dan pembelajaran organisasi memiliki efek positif pada produktivitas karyawan dan memainkan peran penting dalam proses perbaikannya.

KESIMPULAN:
            Penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh lingkungan kerja dan pembelajaran organisasi terhadap produktivitas kerja karyawan di sektor pendidikan tinggi. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap produktivitas karyawan dan merupakan faktor yang paling penting untuk mengembangkan kepuasan dan produktivitas karyawan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran organisasi berpengaruh positif yang signifikan dan berperan penting dalam meningkatkan produktivitas karyawan.

KEKUATAN PENELITIAN:
1.    Jurnal ini memiliki data yang diambil langsung dari para responden yang mengisi kuesioner.
2.    Pengolahan data yang dilakukan juga memiliki sumber yang terpercaya sehingga hasil dari pengolahan data kuat.
3.    Masalah yang dianalisis dan dibahas pada jurnal ini jelas.
4.    Sistematika penulisa jurnal ini sudah terstruktur dengan baik sehingga pembaca dapat mengerti dengan isi penelitian ini

KELEMAHAN PENELITIAN:
1.    Penelitian pada jurnal ini hanya menggunakan kuesioner dalam pengambilan datanya, akan lebih bagus juga kalau penulis dapat mewawancarai langsung pegawai sehingga lebih paham lagi dengan masalah dan keinginan dari para pegawai.

SUMBER JURNAL:


Download PPT here:
https://drive.google.com/drive/folders/0B2vTmWoySnQHZ0tub0tSNW1iTEU?usp=sharing

Baca Terusannya »»  

Senin, 02 Januari 2017

REVIEW JURNAL

Diposting oleh DhillaTM di 11.05 0 komentar

"Classic Grounded Theory to Analyse Secondary Data: Reality and Reflections"

                On this opportunity i would like to make a review of a journal about “Classic Grounded Theory to Analyse Secondary Data: Reality and Reflections”. The article of this journal has many advantages, namely the sentence clearly and use words that are commonly used. So the readers can more easily understand the content of the journal. But sometimes the election of the words still created a confusion for the readers, so it’s make the differences of opinion between the readers.  
This journal draws on the experiences of two researchers and discusses how they conducted a secondary data analysis using classic grounded theory. The aim of the primary study was to explore first-time parents’ postnatal educational needs. A subset of the data from the primary study (eight transcripts from interviews with fathers) was used for the secondary data analysis. The objectives of the secondary data analysis were to identify the challenges of using classic grounded theory with secondary data and to explore whether the re-analysis of primary data using a different methodology would yield a different outcome. Through the process of re-analysis a tentative theory emerged on ‘developing competency as a father’. Challenges encountered during this re-analysis included the small dataset, the pre-framed data, and limited ability for theoretical sampling. This re-analysis proved to be a very useful learning tool for author 1(LA), who was a novice with classic grounded theory.
Grounded theory (GT) is a systematic methodology in the social sciences involving the construction of theory through the analysis of data. Grounded theory is a research methodology which operates almost in a reverse fashion from social science research in the positivist tradition. Primary data originates from a study in which a researcher collects information him/herself to answer a particular research question. Secondary data, on the other hand, is data that already exists (Glaser, 1963). Consequently, the secondary data analyst is not involved in the recruitment of participants or in the collection of the data. Secondary data analysis is the use of previously collected data, for some other purpose. It is not a method of data analysis, therefore methods such as grounded theory or statistical analysis, for example, can be applied to the process of secondary data analysis. The focus of classic grounded theory is on identifying the participants’ main concern and how they resolve that concern.
We can make a conclusion from the journal that the comparison between primary and secondary data analysis outcomes are when the primary and secondary data analysis findings are compared, there are some similarities and also some notable differences. The similarities include the fathers’ sense of not being involved by midwives, their lack of access to knowledge and skills and their adaptation to fatherhood although a change, it was a gradual one. Some of the notable differences in the classical grounded theory approach include: the move away from mere description of the data, the clear identification of a main concern and the conceptualisation of five processes used by fathers to resolve their concern. One explanation for the differences in the findings is the two different ways in which this data was examined. In the primary study, a specific pre-framed research question was applied whereas, in the secondary data analysis, a more open analytical approach was used allowing ideas to emerge from the data. In addition, the focus of the primary study was on postnatal educational needs, whereas the secondary data analysis had no preconceived framework. In the classical approach there was also a greater emphasis, during data analysis, on transcending and conceptualising as opposed to describing. There are two reasons for these differences, firstly, the application of the classic grounded theory approach which utilises a more open perspective and secondly, the passage of time facilitated a more objective approach to analysing the data.
Strauss (1987) recommends the use of integrative diagrams, as a way of integrating threads of the emergent theory and as a means of explaining ideas to others. However Glaser (1998) is of the view that diagrams oversimplify the theory, and may result in people not reading the intricacies of the theory developed. As a diagram had proved, in the first set of analysis, to be a useful tool in helping to visualise relationships between categories (see figure 1), it was decided to produce a diagram for the secondary analysis (figure 2). What is clear from both diagrams is that neither is sufficient to explain the outcome; however, interestingly the diagram produced from the secondary data analysis does give a greater feel for a core concern and how the various categories identified connected with that core concern.

Source:


Baca Terusannya »»  
 

Ordinary Girl Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos